Tag Archives: tesis

Kesiapan Bandara Soekarno−Hatta untuk Menghadapi Penyebaran Virus MERS CoV dalam Rangka Manajemen Bencana untuk Keamanan Nasional

KESIAPAN BANDARA SOEKARNO−HATTA UNTUK MENGHADAPI PENYEBARAN VIRUS MERS COV DALAM RANGKA MANAJEMEN BENCANA UNTUK KEAMANAN NASIONAL

Mochammad Reza

Absrak

Virus MERS CoV yang berjangkit di Timur Tengah khususnya dr Arab Saudi pada tahun 2014 tercatat 679 kasus dan menyebabkan 273 kematian (WHO, 2015a). Angka ini merupakan potensi ancaman nyata bagi Indonesia yang setiap tahunnya mengirimkan Jamaah Haji ke Arab Saudi. Karena itu, Indonesia harus memiliki manajemen bencana yang terkait identifikasi, pencegahan dan prakiraan virus dengan membuat model penyebaran virus MERS CoV jika terjadi di Pulau Jawa khususnya di bandara Soekarno−Hatta sebagai salah satu pintu masuk awal perpindahan antar manusia. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis SOP identifikasi dan SOP Pencegahan serta memperkirakan penyebaran virus MERS CoV di Pulau Jawa. Penelitian ini menggunakan metode campuran. Metode kualitatif digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian SOP identifikasi dan pencegahan. Metode kuantiatif menggunakan sistem dynamis dipakai untuk menjawab pertanyaan penelitian prakiraan penyebaran virus MERS CoV. Hasilnya adalah SOP Identifikasi di bandara Soekarno−Hatta sudah cukup siap. Kantor kesehatan pelabuhan (KKP) Bandara Soekarno−Hatta khususnya sudah cukup baik namun thermal scanner yang merupakan alat identifikasi hanya bisa mengukur suhu tubuh sehingga penumpang dalam masa inkubasi virus bisa saja masuk begitu juga bersama dengan penumpang yang melakukan transit. Untuk PT Angkasa Pura II (Persero) dibutuhkan spesifikasi SOP Identifikasi. SOP Pencegahan Bandara Soekarno−Hatta sudah cukup siap khususnya yang dilakukan KKP dan PT Angkasa Pura 2. Namun demikian, tantangan untuk KKP adalah ruang wawancara KKP masih belum memenuhi standar dengan ventilasi yang tidak terpisah. Adapun prakiraan kasus MERS CoV jika terjadi di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa adalah jumlah kasus dan kematian menunjukkan pola exponential growth jika identifikasi dan pencegahan dilakukan tidak optimal berdasarkan hasil penelitian. Temuan ini juga sesuai dengan teori Pirce−Smith (2009) bahwa virus memberikan dampak pada masyarakat, instansi bahkan negara. Saran penelitian ini adalah perlunya membuat MOU pencegahan penyakit atau virus bersama dengan institusi terkait dengan mengabungkan undang-undang atau peraturan terkait virus sebagai dasar kuat dalam penanganan virus untuk mencegah dan menangani risiko masuknya virus bisa dilakukan secara proporsional pada berbagai tahap di institusi terkait, baik oleh KKP maupun oleh PT Angkasa Pura 2.

 Kata Kunci: Kesehatan, Keamanan Nasional, MERS CoV, SOP Identifikasi, SOP Pencegahan, Prakiraan Kasus MERS CoV

Pembimbing 1: Dr. dr. Budi Tri Susilo, M.Si – Dosen Universitas Indonesia.

Pembimbing 2: Mayjen TNI Purn. Dr. dr. Heridadi, M.Sc.

Penulis dapat dihubungi melalui email: ibnu.reza1990[a]gmail.com

Pengaruh Media Massa Terhadap Kesadaran Bencana Pada Remaja Di Kota Payakumbuh

PENGARUH MEDIA MASSA TERHADAP KESADARAN BENCANA PADA REMAJA DI KOTA PAYAKUMBUH

Al Ikhlasniati

Abstrak

Media massa dalam manajemen bencana terutama di fase kesiapsiagaan berfungsi sebagai public educator yang memberikan informasi terkait bencana sehingga dapat meningkatkan kesadaran bencana pada masyarakat termasuk remaja. Beragam jenis media massa seperti: televisi, radio, koran/majalah, internet, dan media sosial juga berpengaruh terhadap perkembangan remaja. Akan tetapi pada remaja di Kota Payakumbuh terdapat kecenderungan tingkat kesadaran bencana yang belum berada dikategori tinggi. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat kesadaran bencana dan menganalisis pengaruh frekuensi akses jenis media massa dan durasi mengakses isi informasi bencana di media massa terhadap tingkat kesadaran bencana pada remaja di Kota Payakumbuh. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel two stage cluster sampling. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 20% dari total populasi per cluster. Subjek penelitian adalah remaja pertengahan yang berusia 15-18 tahun yang berada di tingkat pendidikan sekolah menengah atas. Berdasarkan teknik pengambilan sampel tersebut didapat 4 sekolah SMA sebagai cluster pertama dengan total sampel 484 orang sebagai cluster kedua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata tingkat kesadaran bencana pada remaja di Kota Payakumbuh berada dikategori sedang, yaitu 74,83. Teknik analisis regresi linear berganda menunjukkan bahwa akses jenis media massa dan isi informasi bencana di media massa berpengaruh terhadap kesadaran bencana pada remaja secara simultan dan parsial. Akses jenis media massa berpengaruh positif sebesar 23,3% dan isi informasi bencana di media massa sebesar 23,9% terhadap tingkat kesadaran bencana pada remaja di Kota Payakumbuh.

Kata Kunci: Kesadaran Bencana, Pengaruh Media Massa, Informasi Bencana

Pembimbing 1: Dr. Sugimin Pranoto, M.Eng

Pembimbing 2: Mayor Sus Coky R. Bonavena, M.Si (Han)

Penulis dapat dihubungi melalui email: alikhlasniati[at]ymail.com

Lessons Learned Kerja Sama Sipil dan Militer Indonesia dalam Memberikan Bantuan Kemanusiaan Untuk Bencana Gempa Bumi Nepal 25 April 2015

LESSONS LEARNED KERJA SAMA SIPIL DAN MILITER INDONESIA DALAM MEMBERIKAN BANTUAN KEMANUSIAAN UNTUK BENCANA GEMPA BUMI NEPAL 25 APRIL 2015

Vira Dewi Ayuningrum

Abstrak

Tesis ini melihat tentang kerja sama sipil dan militer Indonesia dalam melaksanakan misi bantuan kemanusiaan untuk bencana gempa bumi Nepal yang terjadi pada 25 April 2015. Fokus penelitian kerja sama ini adalah proses koordinasi dan kerja sama sipil dan militer Indonesia, serta tantangan yang dihadapi sipil dan militer dalam melakukan koordinasi dan kerja sama tersebut. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan pembelajaran berdasarkan pada pengalaman bantuan kemanusian Nepal agar kegiatan pemberian bantuan kemanusiaan atas nama bangsa Indonesia dapat berjalan dengan lebih baik, efektif dan efisien. Ada 3 teori yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu 1) hubungan sipil dan militer, 2) koordinasi sipil dan militer, dan 3) kerja sama sipil dan militer. Untuk mendukung analisis, maka peneliti juga menggunakan konsep bantuan kemanusiaan dan pembelajaran. Proses koordinasi dan kerja sama secara garis besar terbagi menjadi 3 hal bagian, yaitu: 1) unsur sipil-pemerintah BNPB mempunyai fungsi koordinasi selaku focal point dan juga penyandang dana kegiatan. Kemenlu berperan dalam hal perijinan dan hubungan luar negeri, 2) unsur sipil-NGO (HFI & UNDAC) berperan dalam hal koordinasi dengan pihak Nepal, penyediaan tim medis, dan membantu penyediaan obat-obatan, dan 3) unsur militer (TNI) sebagai satu-satunya aktor yang mempunyai ketrampilan dan kapasitas dalam mendirikan dan membongkar rumah sakit lapangan dan juga penyediaan tim medis. Tantangan yang dihadapi selama melakukan koordinasi dan kerja sama adalah kepemimpinan, proses perijinan administrasi dan dukungan dari setiap lembaga/kementerian, perubahan informasi yang dinamis, keterbatasan kemampuan bahasa inggris, pengalaman pertama bekerja sama antar unsur dan juga jenis bantuan yang diberikan, koordinasi FMT di tingkat internasional, proses koordinasi dan registrasi FMT, dan regulasi pemberian bantuan kemanusiaan ke luar negeri. Proses koordinasi, kerja sama dan tantangan yang dihadapi tim Indonesia pada akhirnya memberikan kesadaran bahwa Indonesia memerlukan regulasi atau SOP yang mengatur mekanisme pemberian bantuan kemanusiaan ke luar negeri.

Kata kunci : Kerja sama sipil dan militer, koordinasi, bantuan kemanusiaan, pembelajaran, Indonesia, Nepal, gempa bumi

Pembimbing 1: Brigjen TNI Dr. Arief Budiarto, DESS

Pembimbing 2: Edhita Duarte, MIS, MA

Penulis dapa dihubungi melalui email: dewivira.dv[at]gmail.com

Pengaruh Jaringan Sosial Dan Pendapatan Terhadap Kesiapsiagaan Rumah Tangga Menghadapi Bencana Banjir Rob Di Jakarta Utara

PENGARUH JARINGAN SOSIAL DAN PENDAPATAN TERHADAP KESIAPSIAGAAN RUMAH TANGGA MENGHADAPI BENCANA BANJIR ROB DI JAKARTA UTARA

Yenny Satriyani Pertiwi

Abstrak

Kotamadya Jakarta Utara adalah salah satu wilayah yang rawan akan banjir rob. Risiko akan ancaman yang disebabkan banjir rob semakin tinggi seiring dengan perubahan lingkungan wilayah pesisir. Populasi yang tinggi membuat jakarta Utara mengalami penurunan muka tanah yang signifikan yaitu 5-12 cm/tahun, sementara itu muka air laut mengalami kenaikan sebesar 0,5 cm/tahun. Hal itu berdampak pada kerentanan wilayah pesisir dalam menghadapi banjir rob kedepannya. Berdasarkan hal tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh antara jaringan sosial dan pendapatan terhadap kesiapsiagaan rumah tangga dalam menghadapi bencana banjir rob. Penelitian dilakukan melalui pendekatan kuantitatif dengan menyebarkan kuesioner kepada 100 sampel di Jakarta Utara. Analisis Regresi Berganda digunakan untuk menganalisis pengaruh jaringan sosial dan pendapatan terhadap kesiapsiagaan. Hasil menunjukkan bahwa tingkat kesiapsiagaan rumah tangga dalam menghadapi bencana banjir rob di Jakarta Utara berada pada tingkat siap dengan indeks rata-rata 75,63. Jaringan sosial berpengaruh positif terhadap kesiapsiagaan rumah tangga sebesar 0,435. Sementara itu, pendapatan berpengaruh positif terhadap kesiapsiagaan rumah tangga sebesar 0,660. Kesiapsiagaan rumah tangga dipengaruhi secara signifikan oleh jaringan sosial dan pendapatan dengan arah yang positif sebesar 45,4%. Berdasarkan hal tersebut pendapatan adalah faktor yang lebih dominan dalam mempengaruhi kesiapsiagaan. Maka, diperlukan kerjasama dari pemerintah dan dunia usaha untuk mengembangkan kemitraan agar meningkatkan kapasitas ekonomi lokal.

Kata kunci: kesiapsiagaan, jaringan sosial, pendapatan, banjir rob

Pembimbing 1: Dr. Rudy Pramono
Pembimbing 2: Letkol Inf Frega F. W Inkiriwang, MIR, MMAS
Penulis dapa dihubungi melalui email: Iyen_ni@yahoo.com

Sinergitas Sipil Militer untuk Mewujudkan Pemerintahan yang Baik (Studi kasus: Pelaksanaan Sinergitas Sipil-Militer dalam Rangka Pembinaan Desa Tangguh Bencana di Kecamatan Selupu Rejang Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu Tahun 2010-2015)

SINERGITAS SIPIL MILITER UNTUK MEWUJUDKAN PEMERINTAHAN YANG BAIK (STUDI KASUS: PELAKSANAAN SINERGITAS SIPIL-MILITER DALAM RANGKA PEMBINAAN DESA TANGGUH BENCANA DI KECAMATAN SELUPU REJANG KABUPATEN REJANG LEBONG PROVINSI BENGKULU TAHUN 2010-2015)

Neni Yanji Aurora

ABSTRAK

Bahaya letusan Gunung Api Kaba merupakan bencana alam yang paling berisiko mengancam keselamatan manusia di Desa Sumber Urip Kecamatan Selupu Rejang, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu.   Berdasarkan survey PMI bersama GRC melalui musyawarah dengan Pemerintah desa disepakati program kesiapsiagaan bencana berbasis masyarakat. Desa Sumber Urip memperoleh pembinaan dari PMI dan GRC. Setelah program ini berakhir, pembinaan dilanjutkan oleh BPBD Kabupaten Rejang Lebong, BPBD Provinsi Bengkulu dan BNPB yang menetapkan status Desa Sumber Urip menjadi Desa Tangguh Bencana. Pembinaan Desa Tangguh Bencana memerlukan Sinergitas Sipil-Militer. Penulisan tesis ini untuk melihat bagaimana Sinergitas Sipil-Militer dalam pembinaan Desa Tangguh Bencana dan bagaimana partisipasi masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus pembinaan Desa Sumber Urip menjadi desa tangguh bencana. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam,pengamatan dan dokumentasi kepada aktor yang terlibat dalam pembinaan desa tangguh bencana. Teknik analisis data menggunakan analisis dari Miles dan Huberman, yaitu; reduksi data penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Buku,modul, dan bahan internet yang digunakan merupakan sumber data sekunder. Hasil penelitian ini pelaksanaaan sinergitas sipil-militer dalam pembinaan desa tangguh bencana telah berjalan cukup baik, berdasarkan indikator koordinasi   instansi vertikal dengan pemerintah daerah, sistem manajemen informasi yang efektif, pengaturan kelembagaan yang efektif, Konsultasi yang efektif dengan para pemangku kepentingan utama, manajemen logistic, dan tata kelola serta dari indikator partisipasi masyarakat.

Kata Kunci: Sinergitas Sipil-Milter, Pembinaan desa tangguh bencana

Pembimbing 1: Dr. M.D. La Ode, S.IP.,M.Si, – Dosen Fakultas Strategi Pertahanan Indonesia, Dosen Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN).

Pembimbing 2: Editha Praditya Duarte,S.Sos.,M.I.S.,M.A – Dosen Fakultas Manajemen Pertahanan.

Penulis dapat dihubungi melalui email: neniyanjiaurora[at]gmail.com

Analisis Manajemen Bantuan Kemanusiaan Indonesia untuk Bencana Gempa Bumi Nepal

ANALISIS MANAJEMEN BANTUAN KEMANUSIAAN INDONESIA UNTUK BENCANA GEMPA BUMI NEPAL

Dafid Kurniawan

Abstrak

Nepal mengalami gempa bumi berkekuatan 7,8 SR pada 25 April 2015. Dilatarbelakangi dengan adanya permintaan bantuan dari Nepal dan semangat Konferensi Asia Afrika tahun 2015, Indonesia merespon dengan mengirimkan bantuan kemanusiaan berupa bantuan logistik dan medis. Berkaitan dengan pengalaman tersebut, penelitian dilakukan untuk menganalisis pelaksanaan manajemen bantuan kemanusiaan Indonesia yang berfokus pada bantuan medis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dan data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan manajemen bantuan kemanusiaan Indonesia dimulai dari masa sebelum keberangkatan, saat di Nepal dan pengakhiran bantuan. Jumlah pasien yang mendapat pelayanan kesehatan oleh Tim Medis Indonesia sebanyak 2.424 orang. Berdasarkan Standar Inti FMT, Indonesia memenuhi 11 aspek yang menunjukkan pencapaian bantuan medis. Faktor pendorong pelaksanaan bantuan kemanusiaan Indonesia yaitu kompetensi tenaga medis, kerjasama dari unsur masyarakat dan lembaga usaha, koordinasi tim yang dimudahkan dengan Grup WhatsApp, hubungan diplomatik Indonesia dengan Nepal yang baik, dukungan masyarakat dan relawan lokal Nepal serta keterlibatan aktif Dubes Nepal-Bangladesh dan Konselor Kehormatan Indonesia di Nepal. Sedangkan faktor penghambat pelaksanaan bantuan kemanusiaan yaitu tidak tersedianya pedoman penyiapan obat-obatan untuk bantuan bencana Internasional, tidak disiapkannya perlengkapan administratif untuk catatan medis, kurangnya prasarana Rumah Sakit Lapangan Indonesia, tidak tersedianya prosedur operasional Rumah Sakit Lapangan, ketidaktahuan tim mengenai ketentuan FMT sejak awal serta perbedaan bahasa yang digunakan. Rekomendasi bagi Pemerintah Indonesia segera menyiapkan pedoman bantuan darurat bencana ke luar negeri.

Kata Kunci: Bantuan Kemanusiaan Indonesia, Faktor Pendorong dan Penghambat, Foreign Medical Team, Gempa Bumi Nepal dan Rumah Sakit Lapangan

Pembimbing 1: Dr. Sutopo Purwonugroho, M.Si., A.P.U – Kapusdatinmas BNPB, Dosen Universitas Pertahanan

Pembimbing 2: Marsma TNI Sri Widodo, S.IP., M.Si (Han)

Penulis dapat dihubungi melalui email: sukikurniawan[at]gmail.com

Upaya Pemerintah dan Masyarakat dalam Penyelamatan Ternak pada Bencana Banjir Sungai Bengawan Solo (Studi Kasus Kecamatan Trucuk – Kabupaten Bojonegoro)

UPAYA PEMERINTAH DAN MASYARAKAT DALAM PENYELAMATAN TERNAK PADA BENCANA BANJIR SUNGAI BENGAWAN SOLO (STUDI KASUS KECAMATAN TRUCUK – KABUPATEN BOJONEGORO)

Ony Purwitasari

Abstrak

Pengalaman   erupsi    Gunung    Merapi    2010    melatarbelakangi penelitian ini, dimana para pelaku penanggulangan bencana disadarkan bahwa bukan manusia saja yang harus diselamatkan tetapi juga hewan ternak. Penelitian ini mengenai upaya pemerintah dan masyarakat Kabupaten Bojonegoro dalam penyelamatan ternak pada bencana banjir Sungai Bengawan Solo, dengan mempergunakan metode penelitian kualitatif. Tujuan dari penelitian ini   adalah menganalisis upaya penyelamatan ternak oleh masyarakat yang telah dilakukan selama ini dalam menghadapi bencana banjir dan menganalisis sistem penyelamatan ternak yang efektif pada saat banjir yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten yang sesuai dengan pola penyelamatan ternak masyarakat. Hasil dari penelitian yaitu, pertama masyarakat sudah memiliki pemahaman karakteristik banjir Sungai Bengawan Solo dan kearifan lokal dalam upaya penyelamatan ternak, kedua upaya yang telah dilakukan oleh Pemkab adalah melengkapi kesenjangan yang masyarakat belum bisa mengatasinya. Intervensi LEGS yang dilakukan oleh Pemkab Bojonegoro yaitu intervensi dukungan kesehatan ternak dan intervensi livestock shelter and settlement di tahap awal. Usulan dari penelitian ini adalah kewaspadaan harus tetap dimiliki oleh masyarakat dan selalu mengingatkan bahwa mereka tinggal di daerah rawan bencana. Kearifan lokal masyarakat menjadi modal Pemkab dalam program penyelamatan ternak berbasis masyarakat. Perlu dilakukan kajian dan pelayanan intervensi dukungan kesehatan ternak pasca banjir, kajian intervensi pasokan pakan ternak dan tindak lanjut intervensi livestock shelter and settlement, dan juga perlu membuat pedoman penyelamatan ternak pada saat bencana untuk konteks Indonesia.

Kata kunci: banjir, sungai Bengawan Solo, ternak

Pembimbing 1: Dr. Rudy Pramono – Dosen Universitas Pertahanan

Pembimbing 2: Ir. Sugeng Triutomo, DESS – Ketua DRR Indonesia, Dewan Pengurus IAB 2014 – 2017

Penulis dapat dihubungi melalui email: ony_purwitasari[at]yahoo.com