Tag Archives: masyarakat

Pengaruh Jaringan Sosial Dan Pendapatan Terhadap Kesiapsiagaan Rumah Tangga Menghadapi Bencana Banjir Rob Di Jakarta Utara

PENGARUH JARINGAN SOSIAL DAN PENDAPATAN TERHADAP KESIAPSIAGAAN RUMAH TANGGA MENGHADAPI BENCANA BANJIR ROB DI JAKARTA UTARA

Yenny Satriyani Pertiwi

Abstrak

Kotamadya Jakarta Utara adalah salah satu wilayah yang rawan akan banjir rob. Risiko akan ancaman yang disebabkan banjir rob semakin tinggi seiring dengan perubahan lingkungan wilayah pesisir. Populasi yang tinggi membuat jakarta Utara mengalami penurunan muka tanah yang signifikan yaitu 5-12 cm/tahun, sementara itu muka air laut mengalami kenaikan sebesar 0,5 cm/tahun. Hal itu berdampak pada kerentanan wilayah pesisir dalam menghadapi banjir rob kedepannya. Berdasarkan hal tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh antara jaringan sosial dan pendapatan terhadap kesiapsiagaan rumah tangga dalam menghadapi bencana banjir rob. Penelitian dilakukan melalui pendekatan kuantitatif dengan menyebarkan kuesioner kepada 100 sampel di Jakarta Utara. Analisis Regresi Berganda digunakan untuk menganalisis pengaruh jaringan sosial dan pendapatan terhadap kesiapsiagaan. Hasil menunjukkan bahwa tingkat kesiapsiagaan rumah tangga dalam menghadapi bencana banjir rob di Jakarta Utara berada pada tingkat siap dengan indeks rata-rata 75,63. Jaringan sosial berpengaruh positif terhadap kesiapsiagaan rumah tangga sebesar 0,435. Sementara itu, pendapatan berpengaruh positif terhadap kesiapsiagaan rumah tangga sebesar 0,660. Kesiapsiagaan rumah tangga dipengaruhi secara signifikan oleh jaringan sosial dan pendapatan dengan arah yang positif sebesar 45,4%. Berdasarkan hal tersebut pendapatan adalah faktor yang lebih dominan dalam mempengaruhi kesiapsiagaan. Maka, diperlukan kerjasama dari pemerintah dan dunia usaha untuk mengembangkan kemitraan agar meningkatkan kapasitas ekonomi lokal.

Kata kunci: kesiapsiagaan, jaringan sosial, pendapatan, banjir rob

Pembimbing 1: Dr. Rudy Pramono
Pembimbing 2: Letkol Inf Frega F. W Inkiriwang, MIR, MMAS
Penulis dapa dihubungi melalui email: Iyen_ni@yahoo.com

Gempa 6,2 SR Terasa Kuat di Halmahera Barat

Masyarakat Halmahera Barat dikejutkan oleh gempa 6,2 SR pada pagi tadi. Gempa dengan kekuatan 6,2 SR dengan kedalaman 10 km di dasar laut terjadi pada Rabu (18-3-2015) pukul 05.12 Wib. Pusat gempa berada 115 km Barat Laut Halmahera Barat, Maluku Utara. Gempa tidak memicu potensi tsunami.

Gempa dirasakan kuat di Halmahera Barat selama 5 detik. Masyarakat di Kota Ternate juga merasakan guncangan cukup kuatselama 3-5 detik. Bahkan di Kota Manado, masyarakat juga merasakan gempa. Tidak ada kepanikan karena masyarakat sudah sering mengalami gempa. Sebagian masyarakat merespon dengan keluar dari rumah.

Hingga saat ini belum ada laporan korban jiwa dan kerusakan bangunan akibat gempa tersebut. Aktivitas masyarakat berjalan dengan normal. Continue reading

Sebanyak 15 Ribu Jiwa Terdampak Banjir di Indramayu

Banjir akibat jebolnya tanggul Sungai Cimanuk di Kab Indramayu Prov Jawa Barat mulai berangsur surut. Jika sebelumnya tinggi banjir mencapai 50-300 cm, saat ini 30-150 cm. Banjir disebabkan jebolnya tanggul Sungai Cimanuk di Desa Pilangsari Kecamatan Jatibarang dan Desa Tulungagung Kecamatan Kertasemaya, Kabupaten Indramayu pada Senin (16-3-2015) pukul 03.00 Wib.

Empat kecamatan terdampak langsung banjir yaitu:
1) Kec. Jatibarang: Ds. Jatibarang Baru (7.000 jiwa) dan Ds. Pilangsari (3.500 jiwa), 2) Kec. Kertasmaya: Ds. Tulungagung (375 KK), Ds. Kertas Maya (187 KK), Ds. Sukawera (masih pendataan), dan Ds. Kliwed (masih pendataan), 3) Kec. Loh Bener: Ds. Rambatan dan Blok Balas, 4) Kec. Pasekan: Ds. Pagirikan (23 KK), Ds. Pasekan (25 KK), dan Ds. Berondong (35 KK). Continue reading

Episode yang Tertunda

Oleh: Neni Yanji Aurora, 2015

Mekanisme hidup bergulir seiring waktu, hidup hanya menunda kekalahan
Logika melahirkan jutaan makna penuh harapan
Sisi-sisi hidup yang merupakan impian yag terwujudkan
Tersedak ketika setiap amarah ditelan bersama pahitnya kenyataan
Episode pertemuan membawa sesuatu yang menyenangkan dalam ingatan
Tak menyimpan di dalam album hal-hal yang tak terlupakan
Menyita impian yang selalu didambakan mengusir keinginan yang membedakan

 Ketika kera putih berdasi duduk di atas keangkuhan
Berjuta juta rakyat jelata di sana kelaparan, kekurangan, tak berdaya
Meraup kehidupan demi keluarga dan sesuap nasi
Saat tikus-tikus negara berpesta. Sejuta bayi di sana meregang nyawa
Demo, debat , pro dan kontra mewarnai bumi Indonesiaku ini

Jauh di tempat terpencil….. di situ para petani mengucurkan peluh menjadi tulang punggung
negara, tapi mereka disepelekan! dilecehkan! Diabaikan! Bahkan tak dianggap..
Di mana episode-episode lingkaran kebahagiaan? Realitanya membutuhkan waktu untuk setiap
Pejalan yang memasuki hutan belantara kehidupan.
Episode-episode lingkaran itupun berjalan perlahan hilang dan meninggalkanku
Membungkus Indonesia dalam paket kesengsaraan ketika anak-anak kehilangan pendidikan,
Desa ketinggalan pembangunan masyarakat tak mendapatkan pelayanan kesehatan
Sementara Investor asing berlomba-lomba menanam saham, mengeruk kekayaan Indonesia

Ayo kawan-kawan … mana tiketmu, akankah kau hanya menunggu episode yang tertunda ini?
Mari kita tonton episode yang baru, menutup layar episode lama ini. Menghapus bayangan tanpa
Jejak. Tak menyela selang waktu itu tiba. Menciptakan sesuatu yang kusebut itu bukanlah episode
Yang tertunda.

Inikah yang Namanya Tangguh Bencana?

Catatan UNHAN
Turun Lapangan Mahasiswa MB Cohort 5 ‘Banjir Jakarta’ (1)

Namanya juga prodi Manajemen Bencana. Mau tidak mau, suka tidak suka kegiatan praktik lapangan ya saat kejadian bencana. Inilah realita lapangan. Disaat korban bencana membutuhkan bantuan logistik, eh kita asik mengambil foto atau menanyakan dengan sejumlah pertanyaan yg kadang membuat kita sendiri pusing.

Betapa tidak, kami mahasiswa MB Cohort 5 memiliki hobi foto-foto. Ditambah tugas kami saat turun lapangan adalah melihat fenomena dan ‘berpikir’ untuk melakukan kajian. Plus ditambah kami menggunakan aplikasi cobo collect yaitu input data pada smartphone (khusus android) dengan segudang pertanyaan. Awalnya saya berpikir akan kesulitan melakukannya, namun ternyata masyarakat antusias untuk kita bertanya dan mengambil foto.

Saat langsung bertemu korban, banyak dari masyarakat yang saya lihat tetap tersenyum bahagia. Walau dengan kondisi rumah yg kotor akibat kemasukan air, dan kondisi jalan tergenang air sepaha saya (sekitar 1 meter), masyarakat tetap ramah menjawab pertanyaan yang saya ajukan.

Bencana menurut saya, namun hal yang biasa menurut masyarakat. Itulah yang saya alami di RT 02 RW 02, kelurahan Kedang Haung kecamatan Cengkareng. Sejak minggu malam turun hujan hingga selasa (8 februari 2015), air menggenangi gang setinggi dada orang dewasa. Rabu saat saya berada di lokasi air sudah surut dan masyarakat mengatakan, alhamdulillah.

Saya tidak melihat masyarakat sedih ataupun sangat menderita akibat banjir ini. Mungkin saya hanya lihat luarnya saja, namun ketika senyum dan perkataan yg mereka ucapkan demikian, apa itu belum menunjukkan secara tersirat?

Sudah 10 tahun lebih masyarakat mengalami kondisi seperti ini. Tentu kemauan masyarakat untuk tetap bertahan tinggal di lokasi rawan bahaya banjir, memunculkan kemampuan adaptasi dan kemampuan koping masyarakat menghadapi bencana. Masyarakat tetap beraktivitas seperti biasa. Paling-paling bila tidak bisa tidur baru masyarakat mengungsi ke pos pengungsian. Inikah yang dinamakan masyarakat tangguh bencana? yaitu Masyarakat yang dapat menghadapi bahaya alam dan bersahabat dengan risiko bencana.?

Berdasarkan teori, ada 2 bentuk koping strategi masyarakat dalam kondisi tertekan (stress), yaitu menerima masalah dengan mengontrol emosi atau mengatasi permasalahan itu sendiri. Dalam hal banjir ini, saya melihat masyarakat menerima kejadian banjir dengan ikhlas dan survive untuk mengatasinya.

Itulah secuil gambaran kegiatan saat saya dan kawan2 (mahasiswa MB Cohort 5) turun lapangan untuk melihat langsung penanganan bencana banjir jakarta. Dari total 34 mahasiswa, kami bertujuh (pak Doni, kahfi, fikih, rizki, afief, mba Okta dan saya) mendapat lokasi di Kotamadya Jakarta Barat. Kegiatan berlangsung selama 6 hari (9-14 Februari 2015).

Banyak hal yang ingin saya ceritakan beserta fotonya. Seperti pompa kodok yang masih digunakan masyarakat sebagai sumber air, kondisi di pos BNPB, relawan dari berbagai institusi, dan hal lainnya. Karena masih berada di lapangan, cerita tersebut masih tersusun rapih di pikiran, belum tertuang dalam bentuk tulisan. Coming soon kawan…  🙂

Author: Dafid “Suki” Kurniawan
Mahasiswa Manajemen Bencana Cohort V

Memaknai Ketangguhan Masyarakat Kelud

Setahun lalu, 13-2-2014, Gunung Kelud meletus dengan dahsyat. Memuntahkan 150 juta meter kubik material batu, pasir, dan abu vulkanik. Letusan menjulang ke angkasa hingga 17 km. Abu vulkanik menutup sebagian besar wilayah Jawa.
 
Dari sisi penyelamatan manusia, letusan Kelud merupakan cerita sukses. Sekitar 180.000 jiwa masyarakat Kediri, Malang dan Blitar berhasil dievakuasi dalam waktu kurang dari 2 jam yaitu pukul 21.15 hingga 22.50 Wib. Tak ada korban jiwa. Evakuasi dengan tertib dan lancar. Pasca bencana pun berlangsung kurang dari setahun sehingga kondisi normal kembali.
 
Mengapa masyarakat Kelud tangguh? Pemerintah dan otoritas setempat jauh lebih siap menghadapi letusan 2014 dibanding pada 2007. Masyarakat telah bersiap menghadapi letusan jauh hari sebelumnya. Camat, kepala desa, tokoh masyarakat, TNI, Polri, relawan, dan pengamat gunung api bersama-sama memastikan masyarakat mengetahui apa makna informasi status gunung yang disampaikan secara berkala dan apa yang harus dilakukan pada setiap situasi. Pada 28-12-2014, gladi lapang evakuasi di tiga desa KRB III di Ngancar. Gladi ini disiarkan langsung oleh RAPI dan radio-radio komunitas ke tiga kabupaten. Informasi mengalir dari satu sumber melalui satu saluran yang disiapkan khusus. Masyarakat pun bisa menerima informasi secara satu makna, satu tafsir, tunggal.
 
Respon bencana Kelud juga menampilkan kekuatan kultural masyarakat. Masyarakat Kelud pada dasarnya adalah masyarakat Jawa menjunjung tinggi nilai-nilai hormat dan harmoni. Hormat dimaknai sebagai memberi respek kepada peran setiap orang dan sebaliknya menjalankan peran yang diberikan dengan setia dan disiplin. Harmoni diartikan menjaga keselarasan dengan alam dan manusia, di mana setiap orang adalah mikrokosmos yang berperan memelihara harmoni dunia makrokosmos. Pentingnya hidup bersama alam. Orangtua percaya, abu Kelud adalah warisan kesuburan bagi anak cucu kelak.

Sumber: Sutopo Purwo Nugroho
Kapusdatin Humas BNPB

Mahasiswa, Bencana, dan Pertahanan Negara

Oleh: Al Ikhlasniati

Apa yang terlintas di benak Anda sebagai mahasiswa ketika mendengar kata bencana? Mungkin yang terbayang oleh Anda adalah sebuah malapetaka, kehancuran, pengungsi, korban jiwa, relawan, dan sebagainya. Akan tetapi, ada satu hal lain yang juga identik dengan kata bencana, yaitu bantuan. Ya, bantuan untuk korban bencana. Semua masyarakat dari segala lapisan berbondong-bondong memberikan bantuan kepada para korban. Pemerintah dan NGO (Non-Government Organization) juga saling mendukung satu sama lain dalam mengatur bantuan-bantuan tersebut. Tidak hanya bantuan dari dalam negeri namun bantuan dari pihak asing atau masyarakat internasional juga tak kalah banyak.

Kita lihat peristiwa tsunami Aceh yang terjadi Desember 2004 silam. Begitu banyak bantuan mengalir kepada para korban tsunami tersebut. Tidak hanya bantuan dari dalam negeri namun bantuan dari luar negeri tumpah ruah di Tanah Rencong pada saat itu. Hal ini memperlihatkan bahwa masih banyak masyarakat di dunia yang peduli akan masalah kemanusiaan seperti korban bencana alam. Ribuan ucapan simpati mengalir dari berbagai kalangan. Pemimpin negara-negara di dunia, para pekerja seni papan atas, para ahli ataupun tokoh berpengaruh, dan sebagainya, bersatu dan berbela sungkawa atas peristiwa tsunami yang terjadi di Aceh.

Semua negara seolah saling menggenggam tangan dan memeluk Indonesia yang sedang berduka di kala itu. Akan tetapi, ada hal yang tidak disadari dari semua kejadian tersebut. Jika Anda pernah mendengar istilah “there is no freelunch” atau “tidak ada makan siang yang gratis”, maka itulah yang sebenarnya sedang terjadi. Berbagai ucapan bela sungkawa, beribu bantuan, beratus ahli yang diterjunkan ke daerah bencana, sesungguhnya tidaklah sesederhana itu. Ada maksud dan tujuan lain yang tersembunyi di balik hal tersebut. Bukan bermaksud berpikiran negatif terhadap semua bantuan yang datang, Continue reading