Category Archives: Intermezo

Kuliah Kerja Dalam Negeri (KKDN) ke Kabupaten Karo

Mahasiswa program studi Manajemen Bencana melakukan kegiatan KKDN di Kabupaten Karo pada tanggal 27 April – 1 Mei 2015. Hari pertama kami disambut oleh Kasdam Brigjen TNI Cucu Somantri dengan sangat baik.

IMG_0577

Selesai dengan penyambutan di Medan, kami meluncur ke tempat penginapan di Kabupaten Berastagi. Mikie Holiday Resort and Hotel memberikan fasilitas kamar, kolam renang, dan menu sarapan yang yahud! ruangan untuk evaluasi harian pun tersedia. Hari kedua, kami berkunjung ke pendopo Kabupaten Karo untuk menerima paparan dari Dandim, BPBD, Bappeda, Polres, dan Disperindagkop.

_MG_0841

IMG_2045

Setelah itu kami melihat Sinabung dari simpang empat, kondisi saat itu masih banjir lahar dingin dan hujan pun turun. Hari ketiga, kami melakukan in depth interview ke berbagai dinas dan kelompok-kelompok masyarakat untuk menggali informasi mengenai dampak erupsi Sinabung dan peran yang dilakukan oleh berbagai pihak. Pengabdian Masyarakat dilakukan dalam bentuk penghiburan kepada anak-anak yang berada di pengungsian bekas gedung Universitas Karo.

_MG_7153

Pada siang hari kami melanjutkan perjalanan ke tempat relokasi Gunung Siosar. Tempat relokasi terletak jauh dari jalan raya besar, sebagian rumah telah selesai dibangun, sebagian sudah siap ditempati. Warna hijau dipilih sebagai cat dinding rumah atas permintaan masyarakat. Seperti diberitakan oleh SindoNews, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif secara simbolis menyerahkan 103 unit rumah pemukiman relokasi korban erupsi Gunung Sinabung kepada warga Desa Bekerah di Desa Siosar, Kecamatan Merek, Karo, Sumatera Utara, pada Selasa 5 Mei 2015. Kami disambut oleh Wadansatgas dengan makan siang bersama.

_MG_7550 _MG_7563

IMG_20150430_134531

Kami juga memantau Gunung Sinabung dari jauh melalui PVMBG dengan kamera berlensa tele, binokuler, dan teropong. PVMBG juga memberikan gambaran mengenai aktifitas Gunung Sinabung.

DSCF2075

Perjalanan hari terakhir Kegiatan dilakukan di Medan, Kami disambut dan dijamu dengan baik oleh Pangkosekhudnas III. Royal Suite Condotel menjadi tempat penginapan kami selanjutnya. City Tour Medan pun dimulai dari “Rahmat” International Wildlife Museum and Gallery, Kami mendapat sambutan dari manajer pengelola dan makan siang bersama di ruangan khusus. Perjalanan dilanjutkan ke Masjid Raya Medan, istana Maimun, dan tempat oleh-oleh.

_MG_8330

istana maimoon asli

Kegiatan KKDN masih terkenang hingga hari ini, moment kebersamaan mahasiswa manajemen bencana cohort 5 sekaligus menjadi pembelajaran masing-masing individu di dalamnya.

Tetap aktif dan kompak selalu!

Gioveny Astaning Permana

Episode yang Tertunda

Oleh: Neni Yanji Aurora, 2015

Mekanisme hidup bergulir seiring waktu, hidup hanya menunda kekalahan
Logika melahirkan jutaan makna penuh harapan
Sisi-sisi hidup yang merupakan impian yag terwujudkan
Tersedak ketika setiap amarah ditelan bersama pahitnya kenyataan
Episode pertemuan membawa sesuatu yang menyenangkan dalam ingatan
Tak menyimpan di dalam album hal-hal yang tak terlupakan
Menyita impian yang selalu didambakan mengusir keinginan yang membedakan

 Ketika kera putih berdasi duduk di atas keangkuhan
Berjuta juta rakyat jelata di sana kelaparan, kekurangan, tak berdaya
Meraup kehidupan demi keluarga dan sesuap nasi
Saat tikus-tikus negara berpesta. Sejuta bayi di sana meregang nyawa
Demo, debat , pro dan kontra mewarnai bumi Indonesiaku ini

Jauh di tempat terpencil….. di situ para petani mengucurkan peluh menjadi tulang punggung
negara, tapi mereka disepelekan! dilecehkan! Diabaikan! Bahkan tak dianggap..
Di mana episode-episode lingkaran kebahagiaan? Realitanya membutuhkan waktu untuk setiap
Pejalan yang memasuki hutan belantara kehidupan.
Episode-episode lingkaran itupun berjalan perlahan hilang dan meninggalkanku
Membungkus Indonesia dalam paket kesengsaraan ketika anak-anak kehilangan pendidikan,
Desa ketinggalan pembangunan masyarakat tak mendapatkan pelayanan kesehatan
Sementara Investor asing berlomba-lomba menanam saham, mengeruk kekayaan Indonesia

Ayo kawan-kawan … mana tiketmu, akankah kau hanya menunggu episode yang tertunda ini?
Mari kita tonton episode yang baru, menutup layar episode lama ini. Menghapus bayangan tanpa
Jejak. Tak menyela selang waktu itu tiba. Menciptakan sesuatu yang kusebut itu bukanlah episode
Yang tertunda.

Peran TNI AD dalam Program Ketahanan Pangan

Oleh : Al Ikhlasniati*

Beberapa waktu yang lalu Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menyatakan salah satu program kerja dalam pemerintahannya yaitu membangun ketahanan pangan Indonesia. Program ini tidak hanya melibatkan kementrian pertanian, akan tetapi juga menggandeng TNI khususnya Angkatan Darat.

Program membangun ketahanan pangan Indonesia ditargetkan dapat tercapai selama 3 tahun. Dengan demikian diharapkan 3 tahun yang akan datang Indonesia telah mencapai swasembada pangan atau memiliki ketahanan pangan yang kuat. Akan tetapi masih ada hal yang mengganjal dalam menjalankan program ini yaitu keterlibatan TNI AD. Mengapa harus melibatkan tentara dalam hal meningkatkan ketahanan pangan Indonesia? Itu sebuah tanda tanya besar.

Jika kita memperhatikan beberapa tahun belakangan ini memang krisis pertanian semakin meningkat. Hal ini dapat dilihat bagaimana harga beras lokal semakin mahal dan semakin langka. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Indonesia maka diimporlah beras dari negara tetangga.

Impor beras dalam jumlah besar dan harga berasnya yang lebih murah membuat kita cenderung lebih memilih beras tersebut dibandingkan yang lokal. Pola seperti ini terlihat seperti lingkaran setan yang tidak ada ujungnya. Oleh karena itu untuk memutus rantai lingkaran setan tersebut maka kita harus memulai membangun kembali swasembada pangan seperti yang dulu pernah dilakukan pada zaman pemerintahan Soeharto. Continue reading

Inikah yang Namanya Tangguh Bencana?

Catatan UNHAN
Turun Lapangan Mahasiswa MB Cohort 5 ‘Banjir Jakarta’ (1)

Namanya juga prodi Manajemen Bencana. Mau tidak mau, suka tidak suka kegiatan praktik lapangan ya saat kejadian bencana. Inilah realita lapangan. Disaat korban bencana membutuhkan bantuan logistik, eh kita asik mengambil foto atau menanyakan dengan sejumlah pertanyaan yg kadang membuat kita sendiri pusing.

Betapa tidak, kami mahasiswa MB Cohort 5 memiliki hobi foto-foto. Ditambah tugas kami saat turun lapangan adalah melihat fenomena dan ‘berpikir’ untuk melakukan kajian. Plus ditambah kami menggunakan aplikasi cobo collect yaitu input data pada smartphone (khusus android) dengan segudang pertanyaan. Awalnya saya berpikir akan kesulitan melakukannya, namun ternyata masyarakat antusias untuk kita bertanya dan mengambil foto.

Saat langsung bertemu korban, banyak dari masyarakat yang saya lihat tetap tersenyum bahagia. Walau dengan kondisi rumah yg kotor akibat kemasukan air, dan kondisi jalan tergenang air sepaha saya (sekitar 1 meter), masyarakat tetap ramah menjawab pertanyaan yang saya ajukan.

Bencana menurut saya, namun hal yang biasa menurut masyarakat. Itulah yang saya alami di RT 02 RW 02, kelurahan Kedang Haung kecamatan Cengkareng. Sejak minggu malam turun hujan hingga selasa (8 februari 2015), air menggenangi gang setinggi dada orang dewasa. Rabu saat saya berada di lokasi air sudah surut dan masyarakat mengatakan, alhamdulillah.

Saya tidak melihat masyarakat sedih ataupun sangat menderita akibat banjir ini. Mungkin saya hanya lihat luarnya saja, namun ketika senyum dan perkataan yg mereka ucapkan demikian, apa itu belum menunjukkan secara tersirat?

Sudah 10 tahun lebih masyarakat mengalami kondisi seperti ini. Tentu kemauan masyarakat untuk tetap bertahan tinggal di lokasi rawan bahaya banjir, memunculkan kemampuan adaptasi dan kemampuan koping masyarakat menghadapi bencana. Masyarakat tetap beraktivitas seperti biasa. Paling-paling bila tidak bisa tidur baru masyarakat mengungsi ke pos pengungsian. Inikah yang dinamakan masyarakat tangguh bencana? yaitu Masyarakat yang dapat menghadapi bahaya alam dan bersahabat dengan risiko bencana.?

Berdasarkan teori, ada 2 bentuk koping strategi masyarakat dalam kondisi tertekan (stress), yaitu menerima masalah dengan mengontrol emosi atau mengatasi permasalahan itu sendiri. Dalam hal banjir ini, saya melihat masyarakat menerima kejadian banjir dengan ikhlas dan survive untuk mengatasinya.

Itulah secuil gambaran kegiatan saat saya dan kawan2 (mahasiswa MB Cohort 5) turun lapangan untuk melihat langsung penanganan bencana banjir jakarta. Dari total 34 mahasiswa, kami bertujuh (pak Doni, kahfi, fikih, rizki, afief, mba Okta dan saya) mendapat lokasi di Kotamadya Jakarta Barat. Kegiatan berlangsung selama 6 hari (9-14 Februari 2015).

Banyak hal yang ingin saya ceritakan beserta fotonya. Seperti pompa kodok yang masih digunakan masyarakat sebagai sumber air, kondisi di pos BNPB, relawan dari berbagai institusi, dan hal lainnya. Karena masih berada di lapangan, cerita tersebut masih tersusun rapih di pikiran, belum tertuang dalam bentuk tulisan. Coming soon kawan…  🙂

Author: Dafid “Suki” Kurniawan
Mahasiswa Manajemen Bencana Cohort V

Diskusi Tesis Bersama Prof. Syamsul Maarif

Hari baru, bulan baru, semangat baru! Mengawali hari pertama di bulan Desember ini, mahasiswa Manajemen Bencana Cohort 5 Unhan mendapat siraman semangat dari Bapak Prof. Dr. Syamsul Maarif. Kehadirannya dalam mata kuliah Filsafat dan Metode Penelitian dimanfaatkan oleh para mahasiswa untuk berdiskusi masalah tesis. Semangat!!!

IMG_20141201_113400

IMG_20141201_113331

IMG_20141201_113319

IMG_20141201_111933

IMG_20141201_111843

Mahasiswa, Bencana, dan Pertahanan Negara

Oleh: Al Ikhlasniati

Apa yang terlintas di benak Anda sebagai mahasiswa ketika mendengar kata bencana? Mungkin yang terbayang oleh Anda adalah sebuah malapetaka, kehancuran, pengungsi, korban jiwa, relawan, dan sebagainya. Akan tetapi, ada satu hal lain yang juga identik dengan kata bencana, yaitu bantuan. Ya, bantuan untuk korban bencana. Semua masyarakat dari segala lapisan berbondong-bondong memberikan bantuan kepada para korban. Pemerintah dan NGO (Non-Government Organization) juga saling mendukung satu sama lain dalam mengatur bantuan-bantuan tersebut. Tidak hanya bantuan dari dalam negeri namun bantuan dari pihak asing atau masyarakat internasional juga tak kalah banyak.

Kita lihat peristiwa tsunami Aceh yang terjadi Desember 2004 silam. Begitu banyak bantuan mengalir kepada para korban tsunami tersebut. Tidak hanya bantuan dari dalam negeri namun bantuan dari luar negeri tumpah ruah di Tanah Rencong pada saat itu. Hal ini memperlihatkan bahwa masih banyak masyarakat di dunia yang peduli akan masalah kemanusiaan seperti korban bencana alam. Ribuan ucapan simpati mengalir dari berbagai kalangan. Pemimpin negara-negara di dunia, para pekerja seni papan atas, para ahli ataupun tokoh berpengaruh, dan sebagainya, bersatu dan berbela sungkawa atas peristiwa tsunami yang terjadi di Aceh.

Semua negara seolah saling menggenggam tangan dan memeluk Indonesia yang sedang berduka di kala itu. Akan tetapi, ada hal yang tidak disadari dari semua kejadian tersebut. Jika Anda pernah mendengar istilah “there is no freelunch” atau “tidak ada makan siang yang gratis”, maka itulah yang sebenarnya sedang terjadi. Berbagai ucapan bela sungkawa, beribu bantuan, beratus ahli yang diterjunkan ke daerah bencana, sesungguhnya tidaklah sesederhana itu. Ada maksud dan tujuan lain yang tersembunyi di balik hal tersebut. Bukan bermaksud berpikiran negatif terhadap semua bantuan yang datang, Continue reading

Eksistensi Mahasiswa dalam Pengurangan Resiko Bencana demi Tegaknya Ketangguhan Bangsa

Oleh: Novia Faradila 

Letakkanlah tanganmu di atas bahuku

Biar terbagi beban itu dan tegar dirimu

Di depan sana cahya kecil ‘tuk membantu

Tak hilang arah kita berjalan

Menghadapinya …

Penggalan lirik lagu Usah Kau Lara Sendiri yang dinyanyikan oleh Katon Bagaskara dan Ruth Sahanaya ini mengandung arti yang amat dalam bahwa manusia tidak sebatang kara dalam menghadapi beragam persoalan. Ada tangan-tangan yang siap sedia menjulurkan bantuan, meringankan beban. Begitu pula dalam ranah negara. Sejarah membuktikan bahwa semangat kebersamaan dan gotong royong bangsa telah menjadi cultural identity yang mampu menepis berbagai ancaman yang dapat menggerogoti keamanan dan ketahanan negara, termasuk ketika bencana melanda.

Membahas bencana di Indonesia memang tidak akan ada ujungnya. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa dari awal tahun hingga Agustus 2014 terdapat 972 kejadian bencana yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Korban hilang dan meninggal sebanyak 374 jiwa, korban yang menderita dan mengungsi sebanyak 1.764.227 jiwa, belum lagi kerusakan pemukiman sebanyak 39.823 unit[1].

Hal tersebut tak terlepas dari posisi geografis Indonesia yang terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia. Di bagian selatan dan timur Indonesia terdapat sabuk vulkanik yang memanjang dari Pulau Sumatera – Jawa – Nusa Tenggara – Sulawesi, yang sisinya berupa pegunungan vulkanik tua. Dari 500 gunung api yang ada di Indonesia, 129 di antaranya masih aktif. Continue reading