Peran TNI AD dalam Program Ketahanan Pangan

Oleh : Al Ikhlasniati*

Beberapa waktu yang lalu Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menyatakan salah satu program kerja dalam pemerintahannya yaitu membangun ketahanan pangan Indonesia. Program ini tidak hanya melibatkan kementrian pertanian, akan tetapi juga menggandeng TNI khususnya Angkatan Darat.

Program membangun ketahanan pangan Indonesia ditargetkan dapat tercapai selama 3 tahun. Dengan demikian diharapkan 3 tahun yang akan datang Indonesia telah mencapai swasembada pangan atau memiliki ketahanan pangan yang kuat. Akan tetapi masih ada hal yang mengganjal dalam menjalankan program ini yaitu keterlibatan TNI AD. Mengapa harus melibatkan tentara dalam hal meningkatkan ketahanan pangan Indonesia? Itu sebuah tanda tanya besar.

Jika kita memperhatikan beberapa tahun belakangan ini memang krisis pertanian semakin meningkat. Hal ini dapat dilihat bagaimana harga beras lokal semakin mahal dan semakin langka. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Indonesia maka diimporlah beras dari negara tetangga.

Impor beras dalam jumlah besar dan harga berasnya yang lebih murah membuat kita cenderung lebih memilih beras tersebut dibandingkan yang lokal. Pola seperti ini terlihat seperti lingkaran setan yang tidak ada ujungnya. Oleh karena itu untuk memutus rantai lingkaran setan tersebut maka kita harus memulai membangun kembali swasembada pangan seperti yang dulu pernah dilakukan pada zaman pemerintahan Soeharto.

Program pemerintah dalam membangun ketahanan pangan merupakan program yang patut “diacungi jempol”. Jika program ini dijalankan sesuai aturan dan sungguh-sungguh tanpa adanya permainan ataupun kepentingan-kepentingan kelompok atau individu tertentu maka swasembada pangan akan terwujud dalam waktu 3 tahun mendatang. Akan tetapi melibatkan TNI AD dalam menjalankan program ini menimbulkan pertanyaan-pertanyaan terkait dengan keberfungsian tentara itu sendiri.

Di antara pertanyaan-pertanyaan yang mungkin timbul adalah; apakah tentara dilatih untuk bercocok tanam?; apakah para prajurit tersebut tidak mempunyai kegiatan yang lain?; bukankah tugas prajurit TNI adalah menjaga keutuhan NKRI, tetapi kenapa malah disuruh menanam padi, jagung, tebu, dsb sementara masih banyak daerah di Indonesia ini yang sedang mengalami konflik yang dapat mengganggu kedaulatan NKRI seperti di Papua atau daerah perbatasan lainnya?

Pertanyaan-pertanyaan ini seringkali muncul terutama dipikiran masyarakat awam. Mungkin memang pada zaman sekarang di Indonesia sudah tidak ada lagi perang terbuka melawan pihak asing yang mengganggu kedaulatan bangsa ini. Akan tetapi usaha-usaha separatis ataupun masalah-masalah di perbatasan wilayah dengan negara lain masih tetap ada.

Hal tersebut seharusnya menjadi perhatian atau fokus utama TNI AD sebagai komponen utama dalam menjaga keutuhan NKRI. Namun justru yang dilakukan sekarang oleh TNI AD malah berfokus pada membangun ketahanan pangan. Pengerahan prajurit terutama di wilayah desa untuk menjadi penyuluh, pengawas dan juga pelaku dari program ini seolah-olah menunjukkan bahwa selama ini kementrian pertanian tidak mampu untuk mengatasi masalah pertanian yang ada di Indonesia. Hal ini juga mengisyaratkan bahwa para prajurit di daerah atau di desa tidak punya kegiatan yang produktif selain latihan. Selain itu muncul pemikiran bahwa petani tidak mampu untuk bertani makanya dibantu oleh TNI.

Tugas TNI memang melindungi rakyat, tetapi apakah ikut bercocok tanam juga termasuk tugas utama mereka? Jika TNI AD bercocok tanam lalu petani melakukan apa, menjaga keutuhan NKRI? Jika sekarang TNI AD memegang peralatan pertanian seperti traktor, lalu apakah petani yang harus memegang senjata? Mungkin ini hanya terjadi selama 3 tahun, lalu apa yang terjadi setelah 3 tahun tersebut berlalu? Apakah TNI AD akan lepas tangan begitu saja dan membiarkan petani melanjutkan apa yang mereka lakukan setelah petani dibuat terbuai oleh bantuan dari TNI AD?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak akan ada habisnya. Hal ini disebabkan karena kita semua mengetahui tugas pokok dari masing-masing profesi. Petani tugasnya adalah bertani dan prajurit TNI adalah menjaga kedaulatan bangsa dan keutuhan NKRI. Namun apa yang terjadi sekarang menunjukkan bahwa para prajurit TNI AD tidak sepenuhnya melakukan hal tersebut. Petani pun secara tidak langsung diragukan kredibilitasnya dan dianggap tidak mampu dalam mencapai swasembada pangan.

Padahal yang diperlukan oleh mereka adalah dukungan yang kuat dari pemerintah, kebijakan yang pro pada petani dan akses yang mudah dalam mendapatkan pupuk, bibit, dsb dan juga dalam menjual hasil panennya. Jika hal tersebut dapat dipenuhi kemungkinan besar petani di Indonesia dapat menuju swasembada pangan tanpa turun tangan langsung dari TNI AD.

Bekerja sama antar institusi adalah suatu hal yang baik, akan tetapi tentu semua memiliki tugas pokok yang harus diutamakan. Akan lebih baik jika TNI AD hanya melakukan pengawasan terhadap program tersebut, dan kementrian pertanian tetap menjadi pelaku utama.

Menjadikan tentara sebagai penyuluh mungkin dapat digunakan namun manfaatnya akan lebih terlihat jika perwakilan dari setiap kelompok tani yang ada diberdayakan sebagai penyuluh. Hal ini disebabkan mereka lebih mengetahui karakteristik daerah mereka masing-masing dan mereka telah memiliki pemahaman yang lebih baik terkait melakukan pertanian.

Sebagai saran saja, jika memang kementrian pertanian kekurangan personil dalam memberikan penyuluhan dan pengawasan serta pelaku pertanian, kenapa tidak memanfaatkan dan memberdayakan para mahasiswa dan sarjana pertanian untuk melakukan hal tersebut.

Tentunya ini akan memberikan lapangan pekerjaan bagi para sarjana pertanian karena selama ini yang kita lihat banyak sarjana pertanian yang tidak bekerja sesuai dengan bidang keilmuannya akibat sedikitnya lapangan pekerjaan yang sesuai. Sementara itu bagi para personil TNI AD, jika memang mereka memiliki banyak waktu luang yang kurang produktif selain latihan, akan lebih bermanfaat mereka diberikan kursus bahasa asing ataupun penggunaan komputer.

Dengan demikian mereka akan lebih memiliki keterampilan yang dapat digunakan dalam usaha pertahanan negara, terutama terkait dengan urusan luar negeri. Mereka akan memiliki nilai tawar yang tinggi nantinya dalam dunia internasional yang tentunya dapat meningkatkan citra positif bangsa Indonesia.

Semua ini hanya sebagai renungan saja, karena program ini sedang berjalan. Kita hanya menunggu hasilnya 3 tahun yang akan datang sementara tetap mengawasi perkembangannya. Tentunya kita berharap program ini sukses dan mencapai tujuan yang diharapkan yaitu membangun swasembada pangan Indonesia. Indonesia terbukti kuat ketika program swasembada pangan yang dilakukan selama pemerintahan Soeharto.

Hal inilah yang menjadi landasan untuk mecoba kembali membangun swasembada pangan Indonesia sehingga Indonesia dapat menjadi negara yang kuat. Indonesia adalah negara besar dan kita pantas untuk menjadi negara yang kuat. Mudah-mudahan program ini dapat menjadi langkah awal untuk menuju kebangkitan Indonesia yang lebih baik.***

Unhan, 28 Februari 2015

*Penulis adalah mahasiswa Manajemen Bencana Cohort 5
Universitas Pertahanan Indonesiam

Advertisements

2 responses to “Peran TNI AD dalam Program Ketahanan Pangan

  1. Tugas TNI tidak hanya untuk operasi militer perang saja tetapi juga ada operasi militer selain perang. Nah membantu pemerintah mencapai swasembada pangan ini adalah tugas operasi militer selain perang. TNI tetap memiliki kewajiban untuk berlatih karena setiap prajurit wajib memiliki kemampuan dasar keprajuritan mengantisipasi ancaman yang mengharuskan mereka untuk bertempur. Pasti mereka sudah memiliki program latihan sendiri yang disesuaikan dengan TUGAS TAMBAHAN yakni membantu para petani mencapai swasembada pangan. Saya pernah melihat sendiri ada bapak-bapak TNI yang masih berlatih menembak, bela diri dan lain-lain padahal baru kembali dari sawah membantu petani. Mungkin ini adalah strategi perang model baru. Dimana potensi datangnya ancaman masa depan akan mengarah di wilayah ekuator (termasuk Indonesia). Penduduk dunia akan mengalami kesulitan dalam hal ketersediaan pangan sebab kapasitas produksi pangan negara tersebut tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan sejumlah rakyatnya. Sehingga perlu adanya ekspansi untuk mencari sumber pangan. Dan Indonesia adalah surga bagi tanaman pangan yang dibutuhkan hampir semua orang. Maka wajar bila Indonesia mengantisipasi hal itu dengan bekerjasama melalui TNI mewujudkan swasembada pangan. Sesuai fungsi TNI dalam hal menjaga kedaulatan NKRI. Berarti TNI sudah berfikir jauh ke depan sebab telah mengantisipasi datangnya konflik energi melalui terwujudnya swasembada pangan. Salut deh buat bapak-bapak TNI..

    Like

  2. KASIHAN PRAJURIT DISURUH TURUN KE SAWAH YG BENER AJA JOKO ! SEBETULNYA BERSIHKAN AJA EKSOLITASI PENGUSAHA DAN MAFIA IMPORT BERAS . DISITU TIKUSNYA BROWS

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s