Monthly Archives: February 2015

Inikah yang Namanya Tangguh Bencana?

Catatan UNHAN
Turun Lapangan Mahasiswa MB Cohort 5 ‘Banjir Jakarta’ (1)

Namanya juga prodi Manajemen Bencana. Mau tidak mau, suka tidak suka kegiatan praktik lapangan ya saat kejadian bencana. Inilah realita lapangan. Disaat korban bencana membutuhkan bantuan logistik, eh kita asik mengambil foto atau menanyakan dengan sejumlah pertanyaan yg kadang membuat kita sendiri pusing.

Betapa tidak, kami mahasiswa MB Cohort 5 memiliki hobi foto-foto. Ditambah tugas kami saat turun lapangan adalah melihat fenomena dan ‘berpikir’ untuk melakukan kajian. Plus ditambah kami menggunakan aplikasi cobo collect yaitu input data pada smartphone (khusus android) dengan segudang pertanyaan. Awalnya saya berpikir akan kesulitan melakukannya, namun ternyata masyarakat antusias untuk kita bertanya dan mengambil foto.

Saat langsung bertemu korban, banyak dari masyarakat yang saya lihat tetap tersenyum bahagia. Walau dengan kondisi rumah yg kotor akibat kemasukan air, dan kondisi jalan tergenang air sepaha saya (sekitar 1 meter), masyarakat tetap ramah menjawab pertanyaan yang saya ajukan.

Bencana menurut saya, namun hal yang biasa menurut masyarakat. Itulah yang saya alami di RT 02 RW 02, kelurahan Kedang Haung kecamatan Cengkareng. Sejak minggu malam turun hujan hingga selasa (8 februari 2015), air menggenangi gang setinggi dada orang dewasa. Rabu saat saya berada di lokasi air sudah surut dan masyarakat mengatakan, alhamdulillah.

Saya tidak melihat masyarakat sedih ataupun sangat menderita akibat banjir ini. Mungkin saya hanya lihat luarnya saja, namun ketika senyum dan perkataan yg mereka ucapkan demikian, apa itu belum menunjukkan secara tersirat?

Sudah 10 tahun lebih masyarakat mengalami kondisi seperti ini. Tentu kemauan masyarakat untuk tetap bertahan tinggal di lokasi rawan bahaya banjir, memunculkan kemampuan adaptasi dan kemampuan koping masyarakat menghadapi bencana. Masyarakat tetap beraktivitas seperti biasa. Paling-paling bila tidak bisa tidur baru masyarakat mengungsi ke pos pengungsian. Inikah yang dinamakan masyarakat tangguh bencana? yaitu Masyarakat yang dapat menghadapi bahaya alam dan bersahabat dengan risiko bencana.?

Berdasarkan teori, ada 2 bentuk koping strategi masyarakat dalam kondisi tertekan (stress), yaitu menerima masalah dengan mengontrol emosi atau mengatasi permasalahan itu sendiri. Dalam hal banjir ini, saya melihat masyarakat menerima kejadian banjir dengan ikhlas dan survive untuk mengatasinya.

Itulah secuil gambaran kegiatan saat saya dan kawan2 (mahasiswa MB Cohort 5) turun lapangan untuk melihat langsung penanganan bencana banjir jakarta. Dari total 34 mahasiswa, kami bertujuh (pak Doni, kahfi, fikih, rizki, afief, mba Okta dan saya) mendapat lokasi di Kotamadya Jakarta Barat. Kegiatan berlangsung selama 6 hari (9-14 Februari 2015).

Banyak hal yang ingin saya ceritakan beserta fotonya. Seperti pompa kodok yang masih digunakan masyarakat sebagai sumber air, kondisi di pos BNPB, relawan dari berbagai institusi, dan hal lainnya. Karena masih berada di lapangan, cerita tersebut masih tersusun rapih di pikiran, belum tertuang dalam bentuk tulisan. Coming soon kawan…  🙂

Author: Dafid “Suki” Kurniawan
Mahasiswa Manajemen Bencana Cohort V

Memaknai Ketangguhan Masyarakat Kelud

Setahun lalu, 13-2-2014, Gunung Kelud meletus dengan dahsyat. Memuntahkan 150 juta meter kubik material batu, pasir, dan abu vulkanik. Letusan menjulang ke angkasa hingga 17 km. Abu vulkanik menutup sebagian besar wilayah Jawa.
 
Dari sisi penyelamatan manusia, letusan Kelud merupakan cerita sukses. Sekitar 180.000 jiwa masyarakat Kediri, Malang dan Blitar berhasil dievakuasi dalam waktu kurang dari 2 jam yaitu pukul 21.15 hingga 22.50 Wib. Tak ada korban jiwa. Evakuasi dengan tertib dan lancar. Pasca bencana pun berlangsung kurang dari setahun sehingga kondisi normal kembali.
 
Mengapa masyarakat Kelud tangguh? Pemerintah dan otoritas setempat jauh lebih siap menghadapi letusan 2014 dibanding pada 2007. Masyarakat telah bersiap menghadapi letusan jauh hari sebelumnya. Camat, kepala desa, tokoh masyarakat, TNI, Polri, relawan, dan pengamat gunung api bersama-sama memastikan masyarakat mengetahui apa makna informasi status gunung yang disampaikan secara berkala dan apa yang harus dilakukan pada setiap situasi. Pada 28-12-2014, gladi lapang evakuasi di tiga desa KRB III di Ngancar. Gladi ini disiarkan langsung oleh RAPI dan radio-radio komunitas ke tiga kabupaten. Informasi mengalir dari satu sumber melalui satu saluran yang disiapkan khusus. Masyarakat pun bisa menerima informasi secara satu makna, satu tafsir, tunggal.
 
Respon bencana Kelud juga menampilkan kekuatan kultural masyarakat. Masyarakat Kelud pada dasarnya adalah masyarakat Jawa menjunjung tinggi nilai-nilai hormat dan harmoni. Hormat dimaknai sebagai memberi respek kepada peran setiap orang dan sebaliknya menjalankan peran yang diberikan dengan setia dan disiplin. Harmoni diartikan menjaga keselarasan dengan alam dan manusia, di mana setiap orang adalah mikrokosmos yang berperan memelihara harmoni dunia makrokosmos. Pentingnya hidup bersama alam. Orangtua percaya, abu Kelud adalah warisan kesuburan bagi anak cucu kelak.

Sumber: Sutopo Purwo Nugroho
Kapusdatin Humas BNPB

Menara Peringatan Dini untuk Masyarakat Sekitar Kawah Timbang

Kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap gas beracun di sekitar Kawah Timbang, Desa Sumberejo, Kec Batur, Banjarnegara, Jateng terus meningkat. BNPB bersama  Pemkab Banjarnegara, PVMBG,BPBD Kab Banjarnegara meresmikan menara peringatan dini Kawah Timbang, Kab Banjarnegara yang diresmikan oleh Kepala BNPB pada 12/2 di Banjarnegara. “Aktivitas terakhir Kawah Timbang pada tahun 2011 dan 2013 juga mengharuskan kita untuk mengamankan penduduk dalam radius 1 km”  ucap Syamsul Maarif.

Menara ini terdiri dari 3 lantai, Lantai 1 Pos Forum PB Kawah Timbang dengan pembina dari BPBD Banjarnegara dan Petugas PVMBG. Lantai 2 Pengendalian Komunikasi EWS dengan operator petugas PVMBG dibantu forum PB Kawah Timbang. Lantai 3 Pemantauan Visual dengan operator Petugas PVMBG.

Berdasarkan tingginya tremor dan gempa-gempa vulkanik yang terjadi, menambah tekanan gas dalam rekahan sehingga keluar lebih banyak. Kawah Timbang merupakan kawah yang terletak di dekat Sinila dan beraktivitas sedang dan kawah ini merupakan sumber gas CO2 berkonsentrasi tinggi yang berdampak pada 149 korban pada tahun 1979.

Antisipasi dan pemberdayaan masyarakat sudah dilakukan, antara lain memetakan ancaman Kawah Timbang dan rekahan yang dilakukan PVMBG. Deteksi  gas beracun oleh BPPTKG, BPPT, Informasi Peringatan Dini yang dilakukan secara berkala. Kemudian pemberdayaan relawan penanggulangan bencana Kawah Timbang hasil pembinaan BPBD Banjarnegara dan PVMBG.

Wakil Bupati Banjarnegara Hadi Supeno, menyambut baik pembangunan menara. “Harap Kades beserta masyarakat memelihara dan menjaga menara ini untuk kebaikan bersama, baik informasi evaluasi dan sebagainya” ucapnya.

Khoirul Munar, Anggota DPR Komisi VIII dalam sambutan juga mengatakan sangat mendukung sistem deteksi peringatan dini. “Kita akan mendorong pendanaan untuk pembuatan sistem peringatan dini tahun 2016” ungkapnya.

Sumber: Sutopo Purwo Nugroho
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB

Banjir Rendam 7 Desa Di Gorontalo Utara

Kondisi geomorfologi wilayah Gorontalo rentan banjir bandang. Pada Jumat (6-2-2015) pukul 17.30 Wita terjadi banjir bandang di Kec. Monano, Kab. Gorontalo Utara yang merendam 7 desa yaitu desa Tolitehuyu, Monas, Juriati, Mokonow, Tudi , Pilohuata dan Monano. Tinggi air 50-150 cm. Sekitar 513 unit rumah dengan 2.208 jiwa terendam banjir. 6 rumah rusak berat.

BPBD Gorontalo Utara bersama TNI, Polri, Tagana, PMI, SAR, relawan dan masyarakat sejak kemarin melakukan evakuasi. Dapur umum didirikan di Kantor Kec. Monano. Tidak ada korban akibat banjir bandang ini.

Sementara itu, 3 korban tewas dari banjir Kali Lamong di Gresik telah dimakamkan pada hari ini. Banjir yang terjadi pada Kamis (7-2-2015) pukul 01.00 Wib akibat meluapnya Kali Lamong telah merendam 29 desa di Kec. Benjeng, Kec. Cerme, dan Kec. Menganti, Kab. Gresik, Jawa Timur. Banjir menyebabkan 3 tewas, 5 luka-luka, 1.245 rumah terendam dengan 1.520 KK (4.432 jiwa) terdampak, 378 ha sawah terendam dan kerugian materi lain. Saat ini sebagian daerah masih banjir dengan ketinggian air 30 – 60 cm.

Korban jiwa akibat banjir Kali Lamong ini berawal dari 8 orang yang selesai melihat warga mencari ikan di Jembatan Kali Lamong di Desa Gadingwatu meluap.

Mereka pulang melalui jalan pintas yaitu pematang sawah yang terendam banjir. Saat di pematang sawah ada seorang terpeleset, yang lain akan menolong tapi ikut terjebur. Saat bersamaan debit banjir naik dengan cepat yang akhirnya menyeret 8 orang.
Lima orang yang berhasil menyelamatkan diri, sementara tiga lainnya tenggelam terseret banjir yang kemudian ditemukan dalam kondisi tewas yaitu Heni Pratama Putra (15), Sutris (17), dan M Martoni (21). Sedangkan 5 orang luka masih dirawat di RSI Cahaya Giri, Kringkang, Menganti, Gresik.

Kali Lamong ini selalu banjir setiap tahunnya. Perlu segera penanganan sungainya agar banjir tak berulang.

Sumber: Sutopo Purwo Nugroho
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB

Awas Petir! 8 Orang Jadi Korban

Seiring dengan meningkatnya hujan, maka awan-awan Cumulonimbus (Cu) melimpah ketersediaannya di atmosfer. Sel-sel awan ini dapat tumbuh besar yang dapat menghasilkan hujan deras disertai dengan petir dan angin kencang. 

Pada Sabtu (31-1-2015) tercatat ada 3 orang tewas dan 5 orang luka-luka akibat disambar petir di Tasikmalaya, Bojonegoro, dan Sampang. Di Indihiang,  Kab. Tasikmalaya, Jawa Barat 5 orang petani sedang berteduh di gubug sawah saat hujan deras disambar petir pada pukul 16.00 Wib. 2 orang (Dani Ahmad dan Yudit Herdiansyah) tewas seketika, sedangkan 3 orang (Wawan, Andi, Aceng) luka bakar serius.

Di Bojonegoro, sekitar pukul 12.00 WIB seorang petani (Mustakin, 58) yang sedang jalan kaki pulang dari sawahnya sambil membawa cangkul pada saat hujan gerimis kesambar petir. Korban jatuh tertelungkup di pematang sawah dan tewas di tempat. Kejadian di Dusun Tikung RT 05/RW 02 Desa Senganten, Kec. Gondang, Kab. Bojonegoro, Jawa Timur.

Sedangkan di Perairan Tanjung Bumi Bangkalan, Kec. Sampang, Kab Sampang Jawa Timur, 2 orang menderita luka bakar akibat disambar petir pada Sabtu (31-1-2015) pukul 07.00 Wib.

BPBD bersama Polri dan aparat telah melakukan penanganan. Korban tewas telah dimakamkan dan korban sakit dirawat di puskesmas dan rumah sakit.

Masyarakat dihimbau untuk waspada. Saat mendung atau mulai hujan hendaknya tidak berada di tempat terbuka seperti di sawah, lapangan, pantai, atau tempat-tempat terbuka yang tidak ada penangkal petir. Apalagi membawa barang logam.

Petir adalah gejala elektrostatik yang terjadi akibat perpindahan elektron muatan negatif yang berada di bagian bawah awan menarik muatan listrik positif di atas tanah.

Muatan listrik yang berbeda akan saling tarik menarik sedangkan yang sejenis akan tolak menolak. Itulah mengapa pada bangunan tinggi atau rumah dipasang penangkal petir untuk mencegah kerusakan akibat petir.

Sunber: Sutopo Purwo Nugroho
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB

Banjir – Longsor Melanda Bali dan Dompu

Bencana banjir dan tanah longsor terjadi di Bali dan Dompu pada hari ini. Tanah longsor terjadi di Jalan Raya Sangyang Ambu, Banjar Dinas Bug Bug Kaler, Desa Bug Bug, Kec Karangasem, Kab. Karangasem, Bali pada Sabtu (31-1-2015) pukul 13.30 Wita akibat hujan deras.

Longsor menyebabkan senderan atau tiang rumah pembuatan batako jebol sehingga rumah hancur. Dua orang tewas akibat tertima senderan rumah dan dua orang luka-luka. Korban tewas adalah Dwi Ulandari (8) dan Ni Wayan Klemun (60). Keduanya warga Dusun Tanah Barak, Desa Seraya Timur, Kec Karangasem, Kab Karangasem, Bali. BPBD Karangasem bersama TNI, Polri, aparat setempat dan masyarakat masih menangani longsor. Info lanjut hubungi Indra (Kalak BPBD Bali 081339184444).

Sementara itu, banjir melanda 10 kelurahan di Kec Dompu dan Kec Woja pada Sabtu (31-1-2015) puku 17.00 WITA. Banjir merendam Kel. Karoke, Kel. Bada, Kel. Toto, Kel. Bali I, Kel. Kasi Jawa, Kel. Simpasae, Kel. Sendono II, Kel. Wowondono, Kel. Potisi, dan Kel. Balupasa.

Sekitar 4.000 unit rumah terendam banjir dengan tinggi mencapai 4 meter. Banjir disebabkan banjir kiriman dari Sungai Laju, Sungai Silo, Sungai Soa, Sungai Raba Baka, dan Sungai Toi setelah hujan lebat.

BPBD Kota Bima, TNI, Polri, Tagana, BPBD Kab. Dompu dan masyarakat melakukan evakuasi korban terdampak. BPBD Kota Bima dan Kab. Dompu mendirikan posko. Saat ini listrik masih padam. Masyarakat diungsikan ke masjid-masjid, sekolah dan tempat tempat yang tidak terdampak banjir

Kebutuhan mendesak adalah logistik berupa makanan siap saji, penambahan personil, dapur umum, air bersih, obat-obatan, pakaian bayi dan lainnya.

Masyarakat dihimbau untuk tetap waspada. Puncak hujan akan terus berlangsung hingga Februari 2015.

Sumber: Sutopo Purwo Nugroho
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB