Mahasiswa, Bencana, dan Pertahanan Negara

Oleh: Al Ikhlasniati

Apa yang terlintas di benak Anda sebagai mahasiswa ketika mendengar kata bencana? Mungkin yang terbayang oleh Anda adalah sebuah malapetaka, kehancuran, pengungsi, korban jiwa, relawan, dan sebagainya. Akan tetapi, ada satu hal lain yang juga identik dengan kata bencana, yaitu bantuan. Ya, bantuan untuk korban bencana. Semua masyarakat dari segala lapisan berbondong-bondong memberikan bantuan kepada para korban. Pemerintah dan NGO (Non-Government Organization) juga saling mendukung satu sama lain dalam mengatur bantuan-bantuan tersebut. Tidak hanya bantuan dari dalam negeri namun bantuan dari pihak asing atau masyarakat internasional juga tak kalah banyak.

Kita lihat peristiwa tsunami Aceh yang terjadi Desember 2004 silam. Begitu banyak bantuan mengalir kepada para korban tsunami tersebut. Tidak hanya bantuan dari dalam negeri namun bantuan dari luar negeri tumpah ruah di Tanah Rencong pada saat itu. Hal ini memperlihatkan bahwa masih banyak masyarakat di dunia yang peduli akan masalah kemanusiaan seperti korban bencana alam. Ribuan ucapan simpati mengalir dari berbagai kalangan. Pemimpin negara-negara di dunia, para pekerja seni papan atas, para ahli ataupun tokoh berpengaruh, dan sebagainya, bersatu dan berbela sungkawa atas peristiwa tsunami yang terjadi di Aceh.

Semua negara seolah saling menggenggam tangan dan memeluk Indonesia yang sedang berduka di kala itu. Akan tetapi, ada hal yang tidak disadari dari semua kejadian tersebut. Jika Anda pernah mendengar istilah “there is no freelunch” atau “tidak ada makan siang yang gratis”, maka itulah yang sebenarnya sedang terjadi. Berbagai ucapan bela sungkawa, beribu bantuan, beratus ahli yang diterjunkan ke daerah bencana, sesungguhnya tidaklah sesederhana itu. Ada maksud dan tujuan lain yang tersembunyi di balik hal tersebut. Bukan bermaksud berpikiran negatif terhadap semua bantuan yang datang, terutama dari pihak asing, namun kita harus menyadari bahwa pada saat terjadi bencana di Indonesia, maka sebenarnya pada saat itulah pertahanan kita sebagai negara yang berdaulat sedang lemah.

Pemikiran inilah yang masih jarang muncul di benak masyarakat Indonesia. Silaunya bantuan pihak asing telah membutakan mata kita akan adanya maksud dan tujuan lain yang mungkin tersembunyi. Masyarakat yang menjadi korban bencana tentunya tidak akan memperdulikannya, karena bagi mereka urusan pangan, sandang dan papan lebih penting terlepas dari siapa yang memberi atau apa makna dari pemberian tersebut. Oleh karena itu, pemerintah, NGO, dan mahasiswalah yang seharusnya menjadi filter terhadap bantuan asing yang datang. Tentunya muncul pertanyaan kenapa mahasiswa juga masuk sebagai filter. Hal ini karena mahasiswa adalah ujung tombak dari pilar akademisi yang seharusnya dapat berpikir kritis dan kreatif dalam menghadapi masalah bencana yang terjadi di Indonesia.

Mahasiswa yang kritis tentu akan mampu melihat hal yang tak terlihat oleh pandangan orang awam terhadap bantuan asing tersebut. Mahasiswa yang menyadari adanya hubungan yang kuat antara bencana dan pertahanan negara pasti akan berusaha sekuat tenaga dan mendayagunakan segala kemampuannya dalam menghadapi bencana tersebut sesuai dengan kapasitasnya. Mereka juga sekaligus menjadi pelopor dalam upaya bela negara agar kedaulatan Indonesia tetap terjaga walaupun dalam kondisi yang lemah sekalipun.

Kreativitas mereka juga dituntut dalam upaya penanggulangan bencana. Mahasiswa pada saat bencana diharapkan terjun langsung ke daerah bencana sebagai relawan dan juga sekaligus mengamati bagaimana penyaluran bantuan termasuk bantuan asing. Setelah selesai masa tanggap darurat mahasiwa dapat memberikan kontribusi nyata dalam upaya rehabilitasi ataupun recovery masyarakat di daerah terdampak bencana. Mahasiswa juga dapat memberikan sumbangsih mereka dalam bentuk penelitian yang nantinya dapat menjadi acuan bagi pemerintah ataupun NGO dalam melaksanakan usaha mitigasi,

Itulah peran mahasiswa sebagai bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat. Mereka adalah akademisi yang seharusnya mampu berpikir kritis dan kreatif dalam penanggulangan bencana. Mereka merupakan perantara antara masyarakat, pemerintah, dan NGO yang tidak terikat namun penting keberadaannya. Mahasiswa memang seharusnya “melek” akan bencana, terutama terkait masalah pertahanan negara. Jika bukan mahasiswa yang menyadari hal tersebut, maka tentu akan sulit bagi masyarakat awam untuk melihat keterkaitan antara pertahanan negara dan bencana. Sudah saatnya masyarakat menyadari bahwa kedaulatan negara Indonesia sedang terancam ketika bencana mengguncang di wilayah manapun di ruang NKRI ini.

Esai ini memperoleh juara 2 pada lomba esai Forepna IPB

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s